Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Panti Sosial Binanetra Cendrawasih Biak, Mozard Dante Salakory, SST., mengungkapkan sejumlah tantangan krusial dalam pengelolaan panti yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua. Dalam jumpa pers usai kunjungan reses Anggota DPRP Ir. Musa Yosep Sombuk pada Sabtu (29/8/2026), Mozard menyoroti dampak terhentinya dana dekonsentrasi pusat sejak 2019 serta keterlambatan pencairan dana Otonomi Khusus (Otsus) yang menghambat operasional harian.

Mozard menjelaskan bahwa sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), panti ini sangat bergantung pada alokasi anggaran daerah. Namun, mekanisme pencairan dana Otsus 1% hingga 1,25% yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat asli Papua—termasuk klien penyandang disabilitas netra di panti—sering mengalami hambatan birokratis dari pusat.
“Anggaran itu ada, namun proses pencairannya selalu terlambat. Ini bukan kewenangan saya, tetapi dampaknya langsung dirasakan oleh manusia yang hidup di sini. Mereka butuh makan, pakaian, dan kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini memaksa kami untuk mencari pinjaman ke pihak ketiga, padahal di tengah efisiensi ekonomi saat ini, pihak vendor pun mengalami kesulitan,” ungkap Mozard.
Prioritas Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Pelatihan Kemandirian
Meski menghadapi kendala finansial, Mozard menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan minum tetap menjadi prioritas utama dan sejauh ini dapat terpenuhi. Ia juga melaporkan bahwa kondisi kesehatan para klien dalam keadaan baik. Namun, ia mengakui adanya keterbatasan sarana pendukung untuk program pelatihan keterampilan.

Untuk mengatasi hal tersebut, panti harus berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Biak Numfor guna menyediakan fasilitas pelatihan. Mozard menekankan bahwa tujuan utama panti bukanlah sekadar tempat tinggal permanen seperti panti asuhan, melainkan pusat rehabilitasi untuk mempersiapkan penyandang disabilitas netra agar mandiri.
“Klien tinggal di sini maksimal dua tahun. Dalam periode tersebut, kami membentuk mental, pengetahuan, dan keterampilan hidup mereka. Setelah mandiri, mereka akan dilepas kembali ke masyarakat. Ini berbeda dengan panti asuhan yang tidak memiliki batas waktu tertentu,” jelasnya.
Usulan Strategis: Transformasi Menuju Pusat Rehabilitasi Sosial Lintas Provinsi
Menyikapi tren penurunan populasi anak lahir dengan disabilitas netra akibat kemajuan teknologi medis, Mozard mengajukan konsep transformasi kelembagaan kepada Pemerintah Provinsi Papua. Ia mengusulkan agar Panti Binanetra Cendrawasih berubah fungsi dari khusus disabilitas netra menjadi Panti Rehabilitasi Sosial Disabilitas Umum yang dapat menampung berbagai jenis disabilitas.

Lebih jauh, Mozard menawarkan visi untuk menjadikan panti ini sebagai sentral atau rujukan bagi provinsi-provinsi baru di Tanah Papua, seperti Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
“Konsep yang kami tawarkan adalah sharing budget atau berbagi anggaran melalui Nota Kesepahaman (MoU). Provinsi lain yang belum memiliki fasilitas memadai dapat menitipkan klien mereka ke sini untuk dilatih dan direhabilitasi, sementara anggarannya ditanggung oleh daerah asal. Ini akan menciptakan kerjasama lintas program dan lintas provinsi yang efisien,” papar Mozard.
Ia menambahkan bahwa usulan ini telah disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua dalam kunjungan sebelumnya dan mendapat respons positif untuk dikaji lebih lanjut. Harapan terbesar dari manajemen panti adalah agar institusi ini tidak ditutup, melainkan dikembangkan kapasitasnya untuk melayani spektrum disabilitas yang lebih luas.
Apresiasi atas Perhatian Legislatif
Mozard juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan reses yang dilakukan oleh Ir. Musa Yosep Sombuk, yang didampingi oleh istri, Ny. Sombuk, serta tokoh adat setempat, Hofni Simbiak. Kehadiran wakil rakyat tersebut dinilai penting untuk menyerap keluhan langsung dari lapangan, termasuk isu infrastruktur dapur umum yang mendesak untuk dibangun guna meningkatkan efisiensi pelayanan dan evaluasi kerja staf.
“Kami berharap aspirasi ini didengar dan ditindaklanjuti, sehingga Panti Binanetra Cendrawasih dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan kemandirian penyandang disabilitas di Tanah Papua,” tutup Mozard.

















