Sebuah video yang memperlihatkan pria menyebut mahasiswa dengan sebutan monyet, viral di media sosial.
Pria itu diketahui pengawal pribadi Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa bernama Rohim.
Rohim merupakan anggota TNI.
Cekcok itu terjadi di kawasan Tribun Lapangan Merdeka Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Peristiwa terjadi sesaat setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Republik Indonesia (RI) berakhir pada Senin (17/8/2026).
Maluku adalah sebuah provinsi kepulauan di Indonesia bagian timur dengan ibu kota Ambon.
Dikenal sebagai The Spice Islands atau Kepulauan Rempah, Maluku sejak dulu menjadi pusat perdagangan pala dan cengkih dunia.
Wilayah ini juga memiliki kekayaan alam dan budaya bahari yang sangat tinggi.
Mengutip TribunAmbon.com, mahasiswa yang disebut monyet oleh pengawal pribadi Gubernur Maluku itu bernama Wili Ropena.
Kejadian bermula saat Wili berupaya menyerahkan surat dari Tua Adat Negeri Manusela kepada Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.
Namun, langkah Wili untuk mendekati Gubernur Maluku terus dihalangi sejumlah petugas keamanan.
Baca juga: Sambil Teriak Revolusi, Mahasiswa Saling Dorong dengan Polisi, Botol Air Mineral Melayang
Dalam video berdurasi 46 detik yang beredar, Rohim yang merupakan pengawal pribadi Gubernur Maluku, terlihat mencegat Wili.
Rohim juga berusaha menghalangi mahasiswa tersebut saat hendak menemui Gubernur Maluku untuk menyampaikan surat dari seorang kepala desa di Pulau Seram.
Ia juga tampak memegang tangan dan beberapa kali mendorong mahasiswa serta berusaha mengambil sampul bambu berisi surat yang dibawa.
Dalam cekcok itu, Rohim melontarkan pernyataan yang kemudian menjadi sorotan.
“Kau dengar ka seng (tidak), ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit,” tegas Rohim.
Buntut dari pernyataannya yang kemudian menjadi sorotan, Rohim lantas menyampaikan permohonan maaf.
“Mengawali pernyataan ini saya menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi kemarin,” kata Rohim saat dimintai tanggapannya oleh Kompas.com, Selasa (18/8/2026).
Rohim menyadari, pernyataan yang dilontarkannya itu telah menimbulkan reaksi yang dapat melukai perasaan masyarakat tertentu.
Oleh karena itu, ia tak ingin mencari pembenaran dalam kasus tersebut.
“Saya tidak berupaya untuk mencari pembenaran,” katanya.
Meski begitu, Rohim meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi atau membuat kesimpulan sendiri hanya berdasarkan potongan video yang viral tersebut.
Menurutnya, seluruh rangkaian peristiwa harus dilihat secara utuh.
“Jangan sampai video beredar hanya dilihat dari satu bagian kemudian ditafsirkan subjektif. Saya ingin masyarakat melihat kronologinya secara utuh,” pintanya.
Kronologi Kejadian
Rohim menjelaskan, saat kejadian, ia melihat sejumlah mahasiswa membawa spanduk, karton manila, dan sejumlah alat peraga lainnya.
Saat itu, Rohim mengaku melihat gerak-gerik mereka yang dinilai hendak melakukan sesuatu.
Ia kemudian berinisiatif untuk menanyakan maksud dan tujuan para mahasiswa tersebut.
“Saya sempat menanyakan apa maksud dan tujuan aksi mereka itu,” ujarnya.
Rohim lantas menyarankan kepada para mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku agar sebaiknya melihat waktu dan kondisi.
Ia juga menawarkan akan memfasilitasi mahasiswa untuk menemui langsung Gubernur Maluku di kantor.
Akan tetapi, kata dia, tawarannya itu ditolak oleh para mahasiswa.
Situasi menjadi tegang tatkala Rohim melihat ada seorang mahasiswa yang membawa potongan bambu.
Benda itu membuatnya curiga hingga ia harus memastikan keselamatan Gubernur dan pejabat lainnya di lokasi.
“Saya menjalankan protap untuk mengamankan keselamatan pejabat negara,” sebutnya.
Rohim melanjutkan, situasi semakin memanas ketika mahasiswa tetap berusaha menerobos barikade pengamanan meski telah diingatkan.
Rohim mengaku dalam situasi itulah ia mengeluarkan pernyataan tersebut kepada mahasiswa.
Rohim menegaskan, kalimat yang dilontarkannya itu ditujukan kepada individu yang berada di hadapannya dan bukan ditujukan kepada suku tertentu.

















