Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mencatat tren peningkatan kasus hepatitis dalam tiga tahun terakhir. Meningkatnya jumlah kasus tersebut dipengaruhi semakin luasnya pelaksanaan pemeriksaan kesehatan gratis yang mampu menemukan lebih banyak penderita di masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Nabire, Agustina Elvin, mengatakan pada 2023 tercatat 94 kasus hepatitis B. Sementara hepatitis C belum dilakukan pemeriksaan sehingga belum ditemukan kasus.
“Pada 2024 ditemukan 96 kasus hepatitis B dan tiga kasus hepatitis C. Kemudian pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 174 kasus hepatitis B dan 36 kasus hepatitis C,” kata Agustina kepada Nabire News, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Dinkes Nabire Raih Peringkat 2 Nasional Program Hepatitis Ibu dan Anak, Ini Kata Kabid P2P
Menurutnya, peningkatan tersebut bukan semata-mata menunjukkan penyebaran penyakit yang semakin luas, tetapi juga karena cakupan pemeriksaan kesehatan gratis kini semakin masif sehingga lebih banyak kasus berhasil terdeteksi.
Ia menjelaskan, hepatitis B masih menjadi jenis hepatitis dengan jumlah kasus terbanyak di Kabupaten Nabire. Karena itu, pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan melalui deteksi dini dan edukasi masyarakat.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pemeriksaan Triple Eliminasi bagi seluruh ibu hamil. Pemeriksaan ini meliputi skrining hepatitis B, sifilis, dan HIV untuk mencegah penularan dari ibu kepada bayi.
Baca Juga: Waka BGN dan Ribka Haluk Tinjau Pasien MBG di RSUP Jayapura
“Risiko penularan hepatitis B dari ibu ke bayi sangat tinggi apabila tidak diketahui sejak dini. Karena itu seluruh ibu hamil diwajibkan menjalani pemeriksaan,” ujarnya.
Selain pemeriksaan ibu hamil, Dinas Kesehatan juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya hepatitis. Tenaga kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan juga mendapat penguatan kapasitas agar mampu menangani program hepatitis dengan baik.
Agustina mengatakan pemeriksaan kesehatan gratis yang telah berjalan saat ini juga menjadi sarana skrining hepatitis B dan hepatitis C. Masyarakat diimbau memanfaatkan layanan tersebut setidaknya sekali dalam setahun.
Baca Juga: Wamendagri Apresiasi Pemkab Jayapura Soal Penanganan Cepat Korban Dugaan Keracunan MBG
“Kami berharap masyarakat memiliki kesadaran datang memeriksakan kesehatannya sehingga penyakit dapat ditemukan lebih awal sebelum menimbulkan komplikasi,” katanya.
Ia menjelaskan gejala awal hepatitis umumnya menyerupai penyakit lain, seperti mual, lemah, demam, nafsu makan menurun, nyeri sendi, dan mudah lelah. Karena itu masyarakat diminta tidak mengabaikan keluhan tersebut.
Gejala yang lebih berat dapat ditandai dengan perubahan warna urine menjadi cokelat tua hingga mata dan kulit menguning. Apabila gejala tersebut muncul, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Menurut Agustina, kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular hepatitis antara lain ibu hamil, orang dengan HIV, pengguna narkoba suntik, pekerja seks, warga binaan pemasyarakatan, penerima transfusi darah, pengguna tato, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), serta perempuan transgender.
Baca Juga: MBG Depapre: 527 Warga Tumbang, Dapur Umum Ditutup Sementara
Meski demikian, fokus utama program pemerintah saat ini tetap pada ibu hamil melalui pemeriksaan Triple Eliminasi. Langkah tersebut dinilai paling efektif untuk mencegah penularan hepatitis B kepada bayi sejak dalam kandungan.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengendalian hepatitis. Di antaranya belum seluruh ibu hamil menjalani pemeriksaan, keterbatasan anggaran, rendahnya cakupan imunisasi hepatitis, serta minimnya tenaga kesehatan.
Agustina juga mengungkapkan pelayanan rujukan dan tata laksana hepatitis di rumah sakit masih perlu diperkuat. Hingga kini penanganan pasien hepatitis di fasilitas rujukan belum berjalan optimal.
“Kasus hepatitis bisa seperti fenomena gunung es. Banyak penderita yang belum terdeteksi sehingga berpotensi baru diketahui ketika kondisinya sudah berat. Karena itu deteksi dini dan pemeriksaan rutin sangat penting,” pungkasnya. (*)

















