Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

Harga Ayam Melonjak Jadi Rp 42.000, Telur Rp 25.000 per Kg, Pedagang Bandung Minta MBG Dievaluasi

×

Harga Ayam Melonjak Jadi Rp 42.000, Telur Rp 25.000 per Kg, Pedagang Bandung Minta MBG Dievaluasi

Share this article
Example 468x60

Harga ayam potong dan telur di Pasar Ujungberung, Kota Bandung, Jawa Barat, mengalami kenaikan dan disebut berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).

Pedagang menilai kenaikan harga kali ini tidak hanya dipengaruhi kondisi pasokan, tetapi juga meningkatnya permintaan setelah kegiatan sekolah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan.

Example 300x600

Agus, pedagang ayam potong di Pasar Ujungberung, mengatakan harga ayam saat ini mencapai sekitar Rp 42.000 per kilogram.

Baca juga: Tiga Sentra Sate Ayam dan Dawet Jabung Ponorogo Resmi Jadi Kampung Halal

“Sudah lama, sudah sebulan lebih. (naik). Dari Rp 38.000 sekarang Rp 42.000,” kata Agus saat ditemui di Pasar Ujungberung, Kota Bandung, Jumat (28/8/2026).

Menurut dia, pola kenaikan harga saat ini berbeda dibandingkan kondisi yang biasanya terjadi setelah Lebaran.
Lonjakan Harga Ayam di Bandung Dinilai Janggal, Pemkot Telusuri Penyebabnya
Artikel Kompas.id
Lonjakan Harga Ayam di Bandung Dinilai Janggal, Pemkot Telusuri Penyebabnya

“Biasanya setelah Lebaran itu harga mulai turun kembali. Sekarang sudah tembus dari Rp40 ribu per kilogram,” tuturnya.

Baca juga: “Tarif Parkir Tinggi Akan Menambah Beban Pengeluaran” Warga Keberatan Tarif Parkir Diusulkan Naik
Pedagang Soroti MBG

Agus menduga kembali berjalannya aktivitas sekolah dan program MBG ikut memengaruhi permintaan ayam.

Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti faktor utama yang membuat harga di tingkat produsen tetap tinggi.

“Kalau MBG, kan mulai sekolah lagi bisa (berpengaruh). Dari produsennya harga sudah tinggi,” ucapnya.

Baca juga: Warga Tolak Rencana Kenaikan Tarif Parkir Jakarta: Parkir Sampai Rp 50.000, Lebih Mahal dari Makanannya

Kenaikan harga ayam membuat pedagang harus menyesuaikan jumlah pembelian dari produsen.

Agus mengatakan dirinya memilih mengurangi jumlah stok karena harga beli sudah mahal.

“Pembelian saya ke produsen juga dikurangin karena harga mahal. Kalau pembelian konsumen masih normal, cuma harganya mahal,” katanya.

Baca juga: Ojol Protes Rencana Kenaikan Tarif Parkir Jakarta: Jangan Samakan dengan Kendaraan Pribadi

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pedagang di tengah daya beli masyarakat yang tidak selalu meningkat mengikuti harga komoditas.

Agus berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga agar aktivitas ekonomi di pasar tetap berjalan.
Harga Telur Ikut Naik

Kenaikan juga terjadi pada harga telur.

Baca juga: Pemberantasan Tramadol di Jakarta Dianggap Belum Tuntas, “Jangan Hanya Bikin Pindah Lapak”

Edi, pedagang telur di Pasar Ujungberung, mengatakan harga telur eceran saat ini berada di kisaran Rp 25.000 per kilogram.

Sebelumnya, harga telur berada di sekitar Rp 24.000 per kilogram.

Menurut Edi, saat program MBG libur, harga telur sempat turun hingga sekitar Rp 22.000 per kilogram.

Baca juga: “Takut Langganan pada Nyasar”, Pedagang Ikan Kramat Jati Jaktim Resah Jelang Relokasi

“Setelah MBG kembali berjalan, harga mulai bergerak naik. Pas MBG libur kan turun, harga sampai jatuh. Sekarang sudah mulai naik lagi,” kata Edi.

Ia menilai aktivitas program MBG memang berpengaruh terhadap pergerakan harga komoditas yang banyak digunakan untuk kebutuhan makanan.
Pedagang Pasar Merasa Hanya Kena Imbas

Meski permintaan bahan pangan meningkat, Edi menilai pedagang pasar tradisional tidak ikut menikmati dampak positif secara langsung.

Baca juga: Mengubur Mimpi Miliki Tanah Sendiri di Bali…

Menurut dia, pengadaan kebutuhan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih banyak dilakukan langsung kepada pemasok.

“Mereka sistem belanjanya motong kompas, langsung ke pemasok. Kita mah hanya kena imbas mahalnya saja,” ujar Edi.

Akibatnya, pedagang pasar tradisional tetap menghadapi harga yang lebih tinggi tanpa memperoleh tambahan permintaan secara signifikan.

Baca juga: Puncak Musim Durian Tiba di Baduy, Harga Mulai Rp 25.000 hingga Rp 150.000 Per Buah

Edi menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah dalam mengevaluasi dampak program MBG terhadap rantai pasok pangan.
Minta Pemerintah Evaluasi Rantai Pasok

Edi berharap pelaksanaan MBG tidak hanya berdampak pada meningkatnya kebutuhan bahan pangan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi kepada pelaku usaha kecil di pasar tradisional.

Ia menilai perlu ada evaluasi terhadap pola pengadaan bahan pangan agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

Baca juga: Sungai Mahakam Surut akibat Kemarau, Buruh Dermaga Samarinda Pusing Cari Makan hingga Berutang

“Sekarang yang punya SPPG siapa? Banyak dari kaki tangannya mereka. Malah waktu MBG libur daya beli bagus, sekarang harganya juga mahal. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beli langsung ke produsen, bukan ke pasar,” ujarnya.

Menurut Edi, pola pembelian langsung ke produsen membuat pedagang pasar tradisional tidak banyak mendapatkan dampak dari meningkatnya kebutuhan program.

Di sisi lain, harga komoditas yang digunakan untuk MBG justru ikut naik di tingkat pasar.
Kenaikan Jadi Keluhan Pembeli

Kenaikan harga ayam dan telur juga dikeluhkan sebagian pembeli.

Pedagang menyebut fluktuasi harga menjadi persoalan yang kerap muncul ketika pasokan dan permintaan berubah.

Baca juga: Harga Ayam di Medan Tembus Rp 50.000 per Kg, Pasokan Disebut Berkurang

Harga ayam yang kini berada di kisaran Rp 42.000 per kilogram dan telur sekitar Rp 25.000 per kilogram membuat sebagian konsumen harus menyesuaikan belanja.

Pedagang berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan harga, pasokan, dan daya beli masyarakat.

Selain itu, evaluasi terhadap rantai distribusi dinilai penting agar program MBG tidak hanya meningkatkan permintaan bahan pangan, tetapi juga memberi dampak ekonomi yang lebih merata kepada pedagang tradisional.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *