Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

Esmail Baghaei Sebut Laporan Serangan ke UEA Tidak Berdasar, Peringatkan soal Operasi Bendera Palsu

×

Esmail Baghaei Sebut Laporan Serangan ke UEA Tidak Berdasar, Peringatkan soal Operasi Bendera Palsu

Share this article
Example 468x60

Iran menolak tuduhan Uni Emirat Arab (UEA) bahwa pihaknya meluncurkan dua rudal balistik ke arah negara tersebut, PressTV melaporkan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak membuat tuduhan yang tidak berdasar.

Example 300x600

Ia juga mendesak negara-negara regional untuk mewaspadai adanya “operasi bendera palsu” yang berupaya melibatkan pihak-pihak yang tidak bersalah.

Dalam pernyataannya pada Selasa (18/8/2026) waktu setempat, Esmail Baghaei dengan tegas membantah bahwa Iran telah meluncurkan proyektil apa pun ke arah UEA.

Ia menyesalkan tuduhan tersebut dan menekankan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip bertetangga baik serta merusak upaya yang sedang berlangsung untuk membangun kepercayaan di antara negara-negara regional dan mencegah peningkatan ketidakamanan di kawasan.

Baghaei pun menyerukan kepada pihak-pihak regional untuk mempertimbangkan kompleksitas yang ditimbulkan oleh tindakan jahat yang dilakukan Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap perdamaian dan keamanan regional.

Dalam konteks ini, Baghaei secara khusus merujuk pada sejarah sejumlah “operasi bendera palsu”, yakni tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak tetapi dibuat seolah-olah dilakukan oleh pihak lain.

Ia mendesak negara-negara regional untuk menahan diri dari membuat tuduhan yang tidak berdasar terhadap Republik Islam Iran.

Sebelumnya pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan UEA mengklaim bahwa sistem pertahanan udaranya telah mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran ke arah negara tersebut.

Dilaporkan PressTV, rezim Israel memiliki sejarah panjang dalam melakukan operasi berkedok bendera palsu.

Iran telah berulang kali memperingatkan negara-negara di kawasan untuk tetap waspada terhadap upaya semacam itu.

JUBIR KEMENLU IRAN - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei saat berbicara di konferensi Pers pada tanggal 8 Oktober 2024. Pada hari Senin (3/2/2025) Esmail Baghaei menyampaikan apresiasi ke Donald Trump yang membekukan USAID yang selama ini dinilai mendanai pihak oposisi pemerintah yang berbasis di luar negeri
JUBIR KEMENLU IRAN – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei saat berbicara di konferensi Pers pada tanggal 8 Oktober 2024. (Dokumen Kementerlian Luar Negeri Iran di mfa.gov.ir)

Baca juga: UEA Sebut Iran Lancarkan Serangan Rudal, Teheran Bantah, Transaksi Perdagangan Ditangguhkan

Selama perang 40 hari yang dimulai dengan agresi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Iran melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS di berbagai wilayah, termasuk di Uni Emirat Arab.

Angkatan bersenjata Iran telah menjelaskan operasi tersebut melalui pernyataan resmi dengan memberikan detail mengenai lokasi yang menjadi sasaran.

Taktik operasi bendera palsu lainnya baru-baru ini terjadi di Wilayah Kurdistan Irak pada Senin (17/8/2026), ketika serangan drone menargetkan kantor Perdana Menteri wilayah tersebut, Masrour Barzani.

Dalam unggahan di X pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengecam keras serangan tersebut.

“Tidak ada yang membenarkan serangan sembrono terhadap kantor PM Barzani. Teman-teman Kurdi harus waspada terhadap taktik operasi palsu untuk menabur perselisihan antar tetangga,” katanya.

“Kami melindungi teman-teman Kurdi kami dari Saddam dan DAESH, dan kami berterima kasih atas keamanan yang telah mereka berikan di perbatasan kami,” lanjutnya.

Para analis percaya bahwa rezim Israel berupaya menggunakan taktik semacam itu untuk menarik negara-negara lain ke dalam perang.

UEA Tangguhkan Perdagangan dan Transaksi Lainnya dengan Iran

Setelah laporan mengenai serangan rudal tersebut, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan Uni Emirat Arab menghentikan semua perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Keputusan itu diambil dengan alasan eskalasi regional yang menurut UEA merusak perdamaian dan keamanan regional serta internasional.

Dampak Penangguhan Perdagangan

Keputusan UEA untuk menghentikan perdagangan dengan Iran merupakan langkah signifikan dan berpotensi merugikan perekonomian Republik Islam yang sudah terpuruk, First Post melaporkan.

UEA merupakan mitra dagang terbesar kedua Iran setelah China.

Sebelum perang, perdagangan tahunan antara Iran dan UEA mencapai sekitar 27 miliar dolar AS, sekitar 80 persen di antaranya merupakan ekspor UEA ke Iran.

Seperti ditulis Salman Al-Ansari, seorang peneliti politik, di X:

“Signifikansinya sangat besar. UEA telah menjadi mitra dagang terbesar kedua Iran setelah China, dengan perdagangan bilateral mencapai sekitar $27 miliar.

Awal tahun ini, pejabat UEA @Dhahi_Khalfan menggambarkan UEA sebagai ‘paru-paru tempat Iran bernapas di bawah sanksi’.

Paru-paru itu sekarang tampaknya telah terputus, jika penangguhan tersebut benar-benar dan sepenuhnya diberlakukan.”

Selain itu, UEA telah berfungsi sebagai pintu belakang keuangan bagi Iran, membantunya menghindari sanksi dan mengakses pasar global meskipun terdapat pembatasan pada sistem seperti SWIFT.

Menurut Eurasian Review, UEA telah lama berperan sebagai gerbang komersial dan keuangan penting bagi bisnis Iran.

Karena itu, penangguhan perdagangan dan aktivitas keuangan secara luas berpotensi berdampak besar terhadap perusahaan dan pasar di kedua sisi.

Dalam laporan Al Jazeera, Mark Kimmitt, pensiunan jenderal dan mantan asisten menteri luar negeri AS, mengatakan penangguhan perdagangan UEA dengan Iran dapat memiliki dampak lebih besar daripada sanksi AS, mengingat peran negara Teluk tersebut dalam perekonomian Iran.

“Saya rasa Anda tidak dapat melebih-lebihkan atau meremehkan pentingnya perdagangan, baik perdagangan keuangan maupun barang, antara Dubai dan Iran,” kata Kimmitt dalam laporan Al Jazeera.

“Saat ini, Dubai, UEA, adalah penjual barang impor terbesar ke Iran, melampaui China, melampaui Turki. Jadi, sepertiga impor Iran setiap tahunnya berasal dari UEA.”

Kimmitt menambahkan bahwa peran UEA sebagai pusat keuangan juga telah lama memberi Iran saluran untuk menghindari sanksi.

“Dalam banyak hal, embargo yang diberlakukan oleh UEA bahkan lebih signifikan daripada embargo yang diberlakukan oleh Amerika Serikat,” katanya.

Langkah Uni Emirat Arab (UEA) merupakan eskalasi baru dalam perang yang dimulai pada Februari ketika AS dan Israel meluncurkan rudal ke Teheran dan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Republik Islam Iran mulai menyerang sekutu-sekutu AS di kawasan, yaitu UEA, Bahrain, dan negara-negara Teluk lainnya.

UEA menanggung beban terberat dari serangan Iran, dengan mengalami hampir 3.000 serangan rudal dan drone.

UEA juga membalas dengan sejumlah serangan terhadap Iran.

Namun, ketegangan antara UEA dan Iran mereda setelah nota kesepahaman antara AS dan Iran pada Juni.

Setelah kesepakatan mulai berantakan pada awal Juli, Iran mengarahkan serangannya terutama terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Dalam beberapa bulan terakhir, UEA mengaktifkan kembali saluran diplomatik dan ekonomi dengan Iran sambil memperkuat hubungan militer dengan Israel dan AS.

Namun, serangan rudal kini mengancam mengganggu rasa normalitas yang telah kembali ke UEA.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *